Bendera Setengah Tiang Untuk Moral Bangsa

foto14

Lagi asik nge-scroll timeline facebook, tiba-tiba muncul hasil share tentang kasus yang lagi booming sekarang: kekerasan seksual anak di bawah umur disertai penghilangan nyawa (biar agak sopan jangan perkosaan dengan pembunuhan). Lagi ngelewat depan ruang tv abis ngemil di dapur menuju kamar, beritanya tentang itu juga. Lagi ngobrol istirahat di sela-sela kerjaan megang pipet dan tabung 2 mL di kantor, ngobrolin hal yang sama juga. Huaaah, akhir-akhir ini memang kasus ini sedang mencuat semenjak tagar #LilinUntukYuyun menjadi viral di dunia maya.

Perkembangan kasus semakin ga bisa masuk nalar gw yang masih polos ini (yaah, ga polos-polos amat sih) setelah ada kasus di daerah Tangerang dengan barang bukti cangkul di dalam tubuh korban. CANGKUL saudara! Iya, CANGKUL! Itu loh alat untuk bertani di sawah! Buat pak tani maculin tanah biar gembur! Yang ada di lirik lagu anak-anak “Cangkul, cangkul, cangkul yang dalam. Menanam jagung di kebun kita~”!

Bayangkan itu cangkul bisa jadi alat untuk menghabisi nyawa seseorang setelah ‘dikerjai’ hanya karena masalah sepele: percintaan! Ya Rabbi, udah gagal paham gw entah setan dengan pangkat setinggi apa itu yang bisa ngehasut dan ngebisikin rencana mahanista itu. Pangkat mayor jenderal kali.

Usia korban pun semakin beragam dari umur belasan hingga bulanan. Ya Allah, gw mengelus dada ajah udah ga tau mau komentar apa ngeliat berita ada korban yang usianya 9 bulan. Apa menarik hasratnya sih dari bayi yang lagi ngegemesin lucu-lucunya belajar ngomong kayak gitu? Otak pelakunya udah sengklek kali yah jadi bukannya di kepala malah di kepala ‘situ’, apa yang ada dihajar demi terpuaskan nafsu birahi.

Kekerasan seksual pada anak sebenarnya sudah ramai dibicarakan dari tahun ke tahun. Kalau merhatiin berita kriminal, pasti selalu ada. Tapi yah tapi, kenapa baru mencuat sekarang? Kenapa baru geger sekarang? Kemana aja bapak-ibu polisi dan pengadilan? Sisi skeptisnya gw siiih, gw mencari berita ini sedang mengalihkan isu apa. Tetapi, masih belum ketemu sampai sekarang karena gw lebih sibuk mikirin (mikirinnya sering, ngerjainnya jarang) skripsi dan streaming film di laptop dibandingkan mantengin tv.

Alangkah ironisnya bulan pendidikan dan kebangkitan nasional tahun ini ternodai oleh kasus-kasus kekerasan seksual. Baik korban maupun pelakunya mayoritas di bawah umur. Di usia kebal hukum. Indonesia sedang darurat moral, darurat nurani. Pengibaran bendera di hari kebangkitan sepertinya lebih cocok menjadi pengibaran setengah tiang—tanda berdukacita atas merosotnya moral di negeri ini.

Kalau bicara tentang kekerasan seksual, ada ajah yang melakukan victim blamming.

“Makanya jadi cewe jangan pakai baju yang mini! Kan jadi mancing cowo nafsu dan mikirin bokep!”

“Makanya jadi cewe jangan jalan sendirian malem-malem! Diculik dan diperkosa baru tau rasa!”

“Makanya jadi cewe harus belajar bela diri! Jadi kalau dikerjain sama cowo bisa lawan balik!”

Oke, gw akan bikin counter-attack untuk pernyataan di atas yah *mretekin jari*

“Lu kira bayi atau balita sengaja pake baju mini buat ngegoda om-om kayak kalian, hah? Lu aja cowo-cowo kurang iman yang mikirinnya daerah selangkangan mulu!”

“Lu kira kasus Y di Sumatera pulang sekolahnya malem-malem? Kasus terjadi itu siang bolong yah, otak pelakunya yang udah ga tau di mana karena ga punya iman!”

“Lu kira semua cewe punya tenaga gede bisa ngehajar tiga sampe sepuluh cowo sekaligus? Lu tuh harusnya cowo yang punya tenaga buat ngelindungin cewe!”

Udah. Gitu ajah. Takut diamuk kaum adam gw kalau ngebales mulu.

Udah dapet poin dari counter-attack gw di atas?

Jadi gini niiih… Ga ada gunanya kita menyalahkan korban. Siapa juga yang mau secara sukarela jadi korban begituan. Hiiih, amit-amit! Naudzubillah himinzalik! Menyalahkan korban hanya bikin kasus ini semakin menjadi gunung es di laut antartika. Yang digembar-gemborkan hanya sedikit di permukaan, tapi 80% tidak terungkap karena korban takut dihakimi dan lebih memilih untuk diam. Ga beres-beres deh ini kasus sampe cicit dari cicitnya cicit lu udah ubanan juga kalau sistemnya kayak gini terus.

So, dibandingkan dengan melakukan victim blamming, yuk kita buat generasi kita, adik-adik kita dan bahkan anak-anak kita (terutama kepada putra kita yang akan menjadi seorang pria dewasa yang bermartabat) agar tidak menjadi pemeran di kasus semacam ini. Agar tidak ada Yuyun-yuyun yang lain, agar tidak ada Eno-eno yang lain.

Peran kita sebagai generasi Y sebenarnya cukup berat. Kita hidup di antara generasi X dan Z. Bahkan anak-anak kita nanti adalah generasi alpha, generasi yang tidak akan bisa lepas dari internet.

Di zaman serba digital dan free-access ini, arus informasi, baik positif maupun negatif, sangat deras mengalir ke tangan-tangan kita. Hanya bermodalkan jari dan kata kunci yang pas, konten apapun—APAPUN!—dapat dengan mudah diperoleh. Ga usah lah yah ngebandingin zaman gw—kita—waktu SMP cuma pakai internet untuk friendster-an dan nyari tugas sekolah dengan anak SMP zaman sekarang.

Perkembangan teknologi dan dunia tak kasat mata ini ga bakal bisa dibendung bagaimanapun juga. Bakal ngebut terus. Hubungan internet dengan kekerasan seksual sangat berkorelasi. Kalau tau situs yang pas, diakali IP number-nya atau pake tools internet positive breaker yang lain, tersedialah itu beratus-ratus ribu bahkan berjuta-juta konten pornografi dengan berbagai macam genre. Dari yang soft sampai yang hard, dari yang normal sampai sadistik, dari yang gratisan sampai premium. Dan itu bisa diakses oleh siapa saja bahkan adik-adik kita.

Menurut tulisan temen gw di Indonesiana Tempo, ketika Jepang melegalkan konten pornografi online di sana, justru angka perkosaan menurun. Tapi apakah kita bisa mengadaptasi cara itu? Oh, bisa didemo oleh jutaan umat Muslim nanti orang-orang di kursi legislatif dan eksekutif sana.

Meskipun adik-adik kita tidak bisa mengakses pornografi dari internet (kita bisa memblokir akses atau menyaring kontennya), bisa saja dia mendengar atau melihatnya dari teman-temannya di lingkungannya bergaul. Cara setan memengaruhi otak-otak aktif remaja laki-laki tanggung yang lagi penasaran-penasarannya sama dunia seks memang seperti jalan-jalan ke Roma. Masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan jalan jika satu jalan ditutup.

Jadi, gimana dong supaya mereka kuat iman biar tidak tergoda?

Nah, di sini lah peran kita supaya adik dan anak kita yang lucu-lucu ini bisa jadi porn-proof.

  1. Ajak mereka dekat dengan agama dan Tuhan. Gw yakin ga bakal ada yang ga setuju sama poin ini. Agama manapun pasti mengajarkan moral dan etika yang baik. Perkuat dasar agama. Pererat hubungan dengan Tuhan. Kenal dosa belum tentu kuat iman. Banyak yang udah tau dosa tapi tetep aja dilakukan. Kan fasik tuh. Jadi, kenalkan dosa pada mereka, lalu jauhi bareng-bareng. Dan ajak mereka melakukan perbuatan yang berpahala juga bareng-bareng.
  2. Ajari mereka menghormati wanita. Wanita itu diciptakan bukan semata-mata objek fantasi maupun pemuas hasrat seks aja. Wanita itu mulia. Dari senyumnya bisa mendamaikan, dari ucapannya bisa menenangkan, dari sentuhannya bisa melembutkan dan dari rahimnya bisa melahirkan para pemimpin dan cendikiawan. Wanita itu surga bagi anak-anaknya. Jadi, ajari mereka menghargai dan menghormati wanita, baik seluruh anggota badannya maupun harga dirinya.
  3. Besarkan mereka di lingkungan yang baik. Menurut Vygotsky, psikolog asal Rusia, anak-anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang lain. Psikolog Anak Efnie Indrianie juga mengemukakan bahwa lingkungan berpengaruh sebanyak 70% terhadap tumbuh kembang anak. Jadi, lingkungan yang baik dapat mendukung 2 poin di atas. Lingkungan yang agamis, menghormati wanita dan teu cunihin  kata orang sini mah Insya Allah dapat mengajarkan adik dan anak kita agar tidak menjadi kampungan. Loh, kenapa gw sebut begitu? Iyalah gw sebut kampungan karena orang yang beradab dan cerdas ga bakal melecehkan wanita yang seharusnya dijaga.

Menurut gw, cukup 3 aja cara kita menjaga generasi Z dan alpha ini agar kasus pelecahan dan kekerasan seksual ini tidak terjadi lagi, atau setidaknya menurun. Dengan bermodalkan agama yang kuat dan menghormati wanita, mau dicekokin segimananya pun setan itu jungkir balik menjerumuskan, Insya Allah mereka akan teguh iman. Karena akan selalu ada cahaya penuntun dari hati yang bersih dan mau belajar.

Bendera setengah tiang itu hanya sementara, Indonesia masih bisa menarik Sang Merah Putih ke ujung tiang tertinggi seiring dengan kembali tegaknya moral bangsa ini.

.

.

Salam, dari seorang kakak generasi Y yang punya adik generasi Z merangkap seorang (calon) ibu generasi alpha.

[first draft: Kantor, Bogor, sambil nungguin ujan, 24 Mei 2016, 21:40 WIB]


One thought on “Bendera Setengah Tiang Untuk Moral Bangsa

  1. Yups, tulisan yang mudah dimengerti
    Terima kasih atas kepeduliannya :):)

    Sebenernya masih tak habis pikir sama tren2 sekarang ini. Sempat mikir karna arus media yang terus memberitakan jadi memberikan “inspirasi” buat yang lain.

    Setuju, mendekatkan diri kepada Yang Maha Cinta itu dasar. Supaya bisa menyalurkan cinta yang sebenarnya. Bukan hanya nafsu belaka.
    *mudah2an komentar gw mudah dimengerti ;)) *

What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s