[BOOK REVIEW]: Critical Eleven by Ika Natassa

Parampampaaaam! Gw muncul lagi setelah 4 bulanan hasrat untuk menulis gw menguap entah ke mana.

Masih dalam effort gw menghilangkan writer’s block yang terus melanda (di pikiran gw cuma ada skripsi doang sekarang, pengen cepet lulus, ya Allah…), gw akan mengulas buku yang baru kemarin gw tuntaskan setelah ia menggapai-gapaikan lembarannya untuk gw baca. Ga kuat kali yah dia dapet antrian ketiga puluh delapan untuk gw baca *sinobis’ life*. Buku tersebut berjudul Critical Eleven karya Ika Natassa.

source: goodreads.com
source: goodreads.com

Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman : 344 halaman
Terbit : 10 Agustus 2015

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

Aldebaran ‘Ale’ Risjad dan Tanya ‘Anya’ Laetitia Baskoro adalah dua tokoh sentral dalam novel ini. Waktu pertama kali gw liat cover dan baca sinopsisnya, yang ada di benak gw adalah ceritanya bakal hepi-hepi, romantic fluffy kayak di Divortiare and Twivortiare atau semacam Antologi Rasa yang bikin gw gemes sama si Hariss. And you know what?

I WAS TOTALLY WRONG! COMPLETELY WRONG!

Sepertinya gw ga ngeh ada kata ‘TRAGEDI BESAR’ di sinopsisnya. Oke, di bab awal gw masih dibawa hanyut oleh pertemuan lucu mereka berdua di dalam pesawat menuju Sydney dan ternyata itu hanyalah nostalgia Anya semata. Dan dengan perlahan namun pasti, Mba Ika membuat gw baper dengan gaya penulisannya yang page-turner banget.

Membaca novel ini (menurut gw) seperti membaca curhatan orang. But, I like it. Gaya bicaranya yang seolah emang dari hati mereka berdua membuat kita dapat menyelami dan memahami apa saja yang mereka rasakan, pikirkan dan harapkan. Detail! Gaya penulisan dialog yang bergantian ini membuat gw langsung jatuh cinta dengan karya Ika Natassa yang pertama, Antologi Rasa.

Tutur kata bergantian, ketika Anya mengatakan sesuatu di akhir bab, di bab selanjutnya akan dijelaskan oleh Ale membuat gw ga sabar untuk terus membalikan setiap halamannya. When I was reading this novel, I wondered how come Ika Natassa could write two different characters (man and woman) in a soo detailed feelings? Even in Antologi Rasa, 3 characters! 

Gw akui untuk di novel ini, sosok Ale itu emang agak baper but still acceptable. Lelaki mana sih yang ga baper kalo istri sendiri sedih sampe ga percaya lagi sama dia?

Selipan bahasa Inggris yang bertebaran membuat dialog semakin berwarna. Gw sangat menikmati bahasa yang ‘gado-gado’ ini.

The main conflict in this novel is about loosing; loosing ‘something’ and ‘someone’. Meskipun ketika gw diskusi sama Ka Jeni tentang “Gara-gara itu doang mereka segitunya selama enam bulan?” karena ada temen gw yang mengalami hal yang sama tapi Alhamdulillah ga nyampe segitunya, gw akui tema ‘kehilangan’ itu akan selalu sedih dan bikin gw baper. Jangan salahkan gw yang terlalu melankolis dan gw yang masokis kalo udah urusan genre dan plot sebuah cerita. Sayat-sayat hati ade aja, Bang…

Bab yang paling baper adalah bab 5. Read it by yourself and you’ll know why. Prepare for some tissues just in case you can’t hold your tears or find someone’s shoulder to cry on :P

Berbeda sensasinya dengan Twivortiare yang membuat gw mupeng bikin cepetan nikah, Critical Eleven membuat gw pengen teriak “Aleeee, nikahnya sama gw ajaaaa!”

Pengembangan karakter dan alurnya dari awal sampe ke bagian 9,5/10 novel udah bagus menurut gw, intensified page by page. It’s really touching, you know, looking at the effort of a husband making his wife trust him for the second time, healing her deepest wound and apologizing no matter how many times she rejected him. Tapiiiii, sangat disayangkan bagian 0,5 part ending akhirnya itu membuat grafik yang sudah demikian indahnya melambung ke atas harus turun agak drastis ke bawah. Agak kurang antiklimaks.

“Ending-nya gini doang nih? Ah, kurang gregetttt,” yang gw ucapkan dalam hati saat menutup buku ini.

Dibandingkan bagian 9,5 yang udah bagus itu, 0,5 masih dimaafkan laaah, hanya 0,5% pengaruhnya di novel ini. I give 4 of 5 stars for this novel. I still prefer Antologi Rasa among the Ika Natassa’s novels till now.

“Karena beginilah dari dulu gue mencintai Anya. Tanpa rencana, tanpa jeda, tanpa terbata-bata.”
— Ale


What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s