#NR2015 D19: GONE

1478_fb1eec6e3f16dca200db10bc1958250a

The hardest part
isn’t when someone is leaving you—

Kematian itu pasti akan datang. Baik cepat ataupun lambat. Damai ataupun menyakitkan. Instan ataupun perlahan. Sekali tebas ataupun merasakan sakit yang membakar lalu akhirnya meregang nyawa.

Kematian itu pasti akan datang—tapi tidak untuk Carol. Tidak semudah itu. Tidak untuk makhluk seperti dirinya. Tidak untuk makhluk yang diberi anugerah—atau kutukan?—untuk dapat hidup melewati ribuan tahun dalam keabadian.

Wanita itu terdiam di posisinya; berlutut sedang tubuh seorang pria penuh luka ambruk namun tertahan oleh tubuhnya. Bau amis darah menyeruak, menusuk-nusuk penciumannya. Bukan darahnya, ini bau darah manusia. Darah Zeith. Darah seorang makhluk fana. Darah seorang makhluk yang pasti akan berkenalan dengan kematian.

Belasan luka sabetan pedang mengangga di sekujur tubuh Zeith. Puluhan anak panah menembus punggungnya. Kulitnya yang putih memesona terkoyak dan dibanjiri oleh warna merah. Rambut keperakan yang selalu menantang langit itu kini tunduk oleh darahnya sendiri. Namun, ada satu yang tidak berubah. Sebuah senyuman terukir di bibirnya yang mulai memucat. Senyuman yang amat dikenali Carol selama bertahun-tahun dan sekarang amat dibenci Carol. Senyuman yang seolah berkata ‘Semuanya baik-baik saja’.

Senyuman yang sama saat Carol mendapat penglihatan ini; pertumpahandarah ini. Pembantaian brutal ini. Peperangan besar antara kaumnya—Regen—dan kaum manusia. Tapi, tak ada yang bisa Carol lakukan untuk mencegahnya, sekuat apapun ia berusaha. Sekali takdir tertulis, tak ada yang bisa mengubahnya.

Meskipun sudah bertahun-tahun Carol mengenal Zeith, ia tak pernah mengerti jalan pikiran pria itu. Misterius. Tersembunyi. Namun penuh cinta. Ia tak pernah memahami mengapa Zeith mati-matian membela dirinya yang jelas-jelas berasal dari kaum yang memusuhi manusia.

Apakah ia tidak mencintai kaumnya sendiri? Carol pernah bertanya dalam hati. Zeith adalah garis terdepan barisan militer manusia. Ia termasuk prajurit paling sadis jika sudah berhadapan dengan Regen. Entah sudah berapa ratus kepala Regenous yang putus oleh tangannya. Itu bukti yang lebih dari cukup bahwa Zeith amat membela kaumnya.

Tapi, sosok Zeith yang amat kejam itu seolah luntur tak bersisa jika berhadapan dengan Carol. Hanya ada Zeith yang lembut dan penuh kasih. Carol mencintai Zeith yang seperti itu. Zeith pun mencintai Carol dengan sepenuh hati. Sayangnya, takdir tak mendukung kisah mereka. Mereka berdua tahu sebenarnya ini salah, seharusnya mereka tak saling mencintai.

Cinta memang buta. Cinta mempermainkan mereka.

Zeith adalah orang yang pertama melindungi Carol saat pasukannya mengarahkan serangan pada wanita itu.

“Aku tak bisa melihat kau mati di tangan kaumku.” Itu alasan Zeith menjadi tameng pelindung Carol meski ia sendiri yang harus mengorbankan nyawa.

Zeith adalah seorang manusia, makhluk yang lebih mudah mati dibanding seorang Regenous seperti Carol. Luka fisik tak cukup berarti bagi Regenous yang memiliki kemampuan regenerasi yang cepat. Tapi, luka yang cukup dalam dapat menahan tubuh mereka untuk tidak bergerak selama beberapa menit dan memberikan waktu bagi manusia untuk membunuh mereka. Manusia tidak memiliki kemampuan itu dan akan mati kehabisan darah. Zeith pun akan bernasib sama—Carol sudah tahu itu.

Ia memeluk Zeith erat-erat yang perlahan mendingin. Ia menumpahkan semua air matanya di bahu pria itu, memaki dirinya yang tak berdaya melawan takdir. Tak peduli parasnya yang cantik ikut ternoda dari darah kaum musuhnya. Persetan dengan keabadian! Apa artinya ia dapat hidup abadi jika Zeith tidak ada lagi di sampingnya? Jika tidak ada lagi sentuhan lembut yang menenangkan? Jika tidak ada lagi senyuman yang selalu meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja?

Carol menyadari, cepat ataupun lambat Zeith akan meninggalkannya. Carol abadi dan Zeith fana. Zeith akan mati, baik tewas di tengah peperangan atau ia akan menua dan mati dengan damai. Carol tahu ini akan terjadi. Amat tahu. Bahkan sebelum kematian itu sendiri menjemput Zeith. Tapi, ia tak menyangka jika akan sesakit ini. Perasaan yang terenggut paksa lebih menyakitkan dibanding saat lehernya hampir putus tujuh ratus lima puluh tahun yang lalu.

Seandainya ia dapat kembali, lebih baik ia mati saat itu juga. Agar tidak bertemu dengan Zeith. Agar tidak jatuh cinta dengan manusia. Agar tidak terjebak dalam cinta yang salah. Agar tidak merasakan sakit ketika tahu suatu saat Zeith akan meninggalkannya sendirian dalam sebuah kutukan bernama keabadian.

“Aku pun tidak bisa melihatmu meninggalkanku sendirian.”

Tanpa rasa ragu, Carol mengambil dan menghunuskan pedangnya…

…pada lehernya sendiri.

—it’s when you have realized that someone will leave you,
but you can’t do anything.


What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s