#NR2015 D12: BEN. Benadio.

image

Roy sudah mengenal pria yang duduk di seberang meja barnya ini dari dua tahun yang lalu. Tak ada yang berubah darinya sampai saat ini. Pria itu selalu datang tiga hari sekali, selalu sendiri, tak pernah terlewat pada jam yang sama, memesan minuman yang sama dan duduk di kursi yang sama sejak pertama kali ia mengenalkan diri, “Ben. Benadio.”

Roy tak pernah mengetahui lebih lanjut perihal kehidupan Ben selain namanya. Ben tak pernah mengungkitnya dan Roy pun tak pernah bertanya. Urusan Roy cukuplah sampai membuatkan minuman pesanan lalu menemani Ben ketika ia butuh teman mengobrol. Tak ada pembicaraan yang pribadi kecuali obrolan ringan tentang pertandingan sepak bola musim ini atau keadaan barnya.

Roy, bartender sekaligus pemilik sebuah bar di bilangan kota, mengakui Ben adalah pelanggan favoritnya. Ben adalah orang yang menarik dan berwawasan luas. Iris biru-hijaunya menambah ketampanan dari pria campuran Indo-Eropa (menurut tebakan Roy) ini. Terbukti dari beberapa wanita yang selalu menghampirinya, menggodanya, tapi ditolak halus oleh Ben. Ia selalu memberi bayaran lebih untuk setiap minuman meskipun Roy selalu bersikeras menolakβ€”meski pada akhirnya, ia menerimanya juga karena Ben selalu menang dalam argumen. Ben dapat menjadi teman mengobrol yang amat menyenangkan. Namun, ada saatnya ketika Ben memilih untuk sendiri, menikmati setiap tenggakan wine dalam sepi.

Pada saat itulah, Roy dapat melihat sisi lain dari seorang Benadio. Sorot mata yang cerdas itu menyendu, menatap minuman kekuningan di gelas selama beberapa menit tanpa kata. Raganya memang di sini, tapi Roy tahu, pikiran Ben melayang entah ke mana, tak tergapai dan tak tersentuh. Terkadang ia menarik napas berat dan menghembuskannya perlahan. Menyesap minumannya lalu kembali menatap kekosongan. Sepertinya, masih banyak yang disembunyikan oleh Ben. Roy sudah menganggap Ben sebagai saudaranya sendiri. Ia ingin sekali membantu jika saja Ben menceritakan masalahnya, tetapi Ben memilih tidak. Roy menghargai pilihan itu karena ia tidak punya hak untuk memaksa. Mungkin, Ben memiliki alasan tersendiri untuk menanggung semuanya sendirian.

Yang hanya dapat Roy lakukan jika Ben tidak sadar jika minuman di tangannya sudah habis adalah berkata, “Segelas lagi, sobat?”


What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s