#NR2015 D4: Yang Tersembunyi

Yang Tersembunyi

police-gun

Tali sepatu yang sudah cokelat kekusaman itu ia ikatkan kencang di sepatu boot-nya. Ia sudah bersiap untuk pergi menjalankan ‘pekerjaan’-nya lagi hari ini. Ketika ia bangkit dari posisi duduknya di depan tangga, terdengar suara tawa yang ricuh mendekati dirinya. Sebelas anak yatim piatu berusia empat sampai lima belas tahun berebut berlari ke arahnya—kecuali satu orang. Resha—‘adik’ perempuannya yang paling besar—hanya berjalan tenang di belakang kerumunan anak-anak kecil itu. Gadis itu tersenyum tipis, amat tipis, untuk menutupi kekhawatiran yang berkecamuk di dadanya.

“Mas Arka mau berangkat sekarang? ‘Kan baru semalam Mas Arka baru pulang. ‘Ko cepat sekali?” tanya Tio sembari memeluknya dari belakang.

Belum sempat Arka menjawab, pertanyaan lain segera menyusul, “Mas Arka mau pergi ke mana lagi sekarang? Lama, tidak?”

“Mas Arka jangan lama-lama dong, perginya! Kemarin Mas Arka pergi tiga hari. Kemarinnya lagi empat hari. Mika kangen, tahu!” ujar Mika, ia memajukan bibirnya tanda ia tak rela Arka pergi terlalu lama.

“Hush! Mas Arka ‘kan kerjanya sebagai polisi yang sedang menyamar! Harus hati-hati supaya Mas Arka tidak ketahuan penjahat!” sergah Al yang mempunyai cita-cita sebagai seorang polisi. “Iya ‘kan, Mas Arka?”

“Iya, Mika tahu, Mas Al. Tapi, memangnya Mas Arka tidak bisa pulang lebih cepat?” Mika semakin mengeratkan pelukannya di lengan Arka yang tengah tertawa menyaksikan keributan kecil ini.

“Sudah, sudah, jangan ribut. Kalian semua itu saling bersaudara. Jangan berkelahi.” Arka mengacak-acak rambut Al dan Mika bergantian.

Pemuda dua puluh dua ini memandangi adik-adiknya sembari tersenyum penuh kasih sayang. Sungguh, Arka sangat rindu dengan mereka. Ia baru saja pulang kemarin malam dari ‘tugas’ yang dibebankan padanya. Sekarang, ia harus pergi lagi? Ah, bagaimana bisa ia rela meninggalkan wajah-wajah yang sangat menggemaskan, tawa riang dan senda gurau mereka? Meskipun mereka berdua belas harus rela tinggal berdesak-desakkan di rumah sederhana—bahkan bisa dibilang tidak cukup layak—ini setelah panti asuhan mereka terbakar, aura hangat kekeluargaan tak pernah luntur memenuhi seluruh ruangan.

Namun, apa daya, ia harus menjalankan ‘pekerjaan’ dan ‘tugas’ demi adik-adiknya agar tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini.

“Mas usahakan agar tidak pergi terlalu lama, yah. Ingat, kalian harus menjadi anak-anak yang baik dan selalu menolong orang lain.” Nasihat itu terasa getir begitu keluar dari mulutnya sendiri.

“Siap, Mas Arka!” sahut kesepuluh adik-adiknya dengan riang.

Resha tak ikut menyahut. Ia memandang Arka dengan sendu dan Arka menangkap pandangan itu.

“Pulanglah dengan selamat.” Hanya tiga kata itu yang mampu keluar dari bibirnya. Hanya ia yang tahu siapa sebenarya siapa Arka, dunia macam apa yang Arka masuki dan betapa kerasnya Arka berjuang untuk mereka.

Arka mengangguk pelan.

Ketika ia membuka pintu, sebuah suara nyaring menghentikan langkahnya. “Mas Arka! Tunggu! Ada yang ketinggalan!”

Ia berbalik dan mendapati Fifi—sang bungsu—menyodorkan sesuatu padanya. Mata Arka terbelalak melihat apa yang dipegang Fifi.

Pistolnya.

“Mas Arka lupa pistolnya. Masa’ polisi tidak membawa pistol? Nanti tidak bisa menangkap penjahat, dong?” Fifi menyengir tanpa dosa.

Arka menerima pistol itu dengan hati-hati. Untung saja pistol itu terbungkus oleh tempatnya. Ia tak ingin satu pun adiknya menyentuh benda laknat itu. Cukup ia yang menanggung dosa ini. Mereka harus tetap bersih sesuci kertas putih tanpa noda.

“Terima kasih, Fifi.”

Lalu, Arka melanjutkan kembali langkahnya diiringi oleh ucapan cepat pulang dari sebelas orang yang amat ia sayangi. Arka memasukkan pistol itu ke belakang kemejanya dan berdoa agar ia tidak harus menarik pelatuk dan menembakkan timah panas lagi agar terbebas dari kejaran polisi demi melihat senyuman mereka lagi.


What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s