Ketika Kimia dan Sastra Bersatu…

Ahooooi, sudah lama kita tak berjumpa… Banyak ujian yang mendera akhir-akhir ini… Ampun dah sekolah di SMABOK… -___________-

Okee, sebenarnya begitu banyak cerita yang ingin gw curahkan di blog ini, tapi berhubung waktu jualah (baca: males), ntar aje yeee…

Gw mau posting puisi kimia gw… Jadi Bahasa Indonesia disuruh bikin puisi pake istilah KIMIA ANALISIS, oh meeen! Apa jadinya kalo KIMIA dan SASTRA kawin??

+ –> ??

ASA YANG TERIONISASI

Diam, tak bergeming…
Tak ada oksidasi…
Tak ada reduksi…
Tak ada eksitasi…
Tak ada emisi…
Semua diskrit…
Tangga nada terus terjatuh…
Monoton tak berdawai…
Tak ada detakan nadi…
Tak ada hembusan napas…
Kemana elektron yang berotasi mengelilingi proton jagad raya?
Kemana waktu yang berputar menguasai dunia?
Hampa…
Kepingan-kepingan nyawa sudah tak berarti…
Gerak nebulasi menunggu mati…
 
Putih menjadi hitam…
Ku harap, hitam menjadi putih kembali…
Dan semua ini tak pernah terjadi…
 

SPEKTRUM KENISTAAN

Aku adalah sebuah keberadaan…
Aku adalah sebuah kemunafikan…
Aku adalah spektrum kenistaan…
Aku adalah destilat murni kenaifan…
 
Hei kau!
Para pengecut!
Jangan pandangi aku dengan tampang jijik!
Kau hanyalah hitam di balik indahnya nyala Cu!
Kau hanyalah keruh di balik beningnya mutiara boraks?
Kau hanyalah arang dalam oksidasi!
Kau hanyalah residu dalam filtrasi!
 
Aku adalah kau…
Kau adalah aku…
Gangguan ionisasi di tengah serapan emisi…
Jangan munafik, kawan!
Kau, jasad organik yang akan hancur dikalang tanah, tak akan sendiri
terbakar dalam plasma putih…
Kita bersama, kawan…

BINTANG DAN NEBULA

Spektrum terindah di tengah pekatnya hitam…
 
Untaian mutiara tersebar di kain tak bertepi…
Yang terindah terlahir dari nebulasi tergelap dan terisolasi…
Yang terindah terlahir dari plasma tertinggi…
Percikan nyala jenaka…
Kerlip mengajak canda…
Memandu insan yang tersesat di peta langit…
Terkadang terang, terkadang diskrit…
 
Ribuan tahun cahaya terlewati,,,
Energi semakin lemah dan perlahan mati…
Menyusut, berkelip pelan…
Mulai meniti ujung kehidupan…
Masa itu tentu akan datang…
Tak ada lagi cahaya terang…
Tak ada lagi pijar gemilang…
 
Spektrum berhamburan…
Tertransmisikan, terbiaskan…
Akhirnya hilang tak berbekas…
Kembali menjadi nebula tak terberkas…
 
Bintang terindah terlahir dan awan-awan nebula tergelap…
 

NIKMATI HIDUPMU, KAWAN!

Cinta ini buta tapi tidak tuli…
Dunia ini tua tapi belum mati…
Hidup ini kejam tapi tidak menghakimi…
Hidup ini hanya sekali…
 
Tunggulah pijarmu, kawan!
Tunggulah nyalamum teman!
Hidup tak selalu tereduksi, pasti ada oksidasi…
Hidup tak selalu teremisi, pasti ada eksitasi…
 
Dengan pengoksidasi ikhtiarmu…
Dengan penitar kesabaranmu…
Dengan indikator keihklasanmu…
Pasti kau akan temukan titik akhirmu…
 
Nikmati hidupmu, kawan!
 

Ahahaha, bagaimana? Bagaimana? Indah bukan? 


3 thoughts on “Ketika Kimia dan Sastra Bersatu…

What are you thinking about this post?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s